Share is caring
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Awal tahun 2018, Indonesia dikejutkan dengan beredarnya video pornografi anak. Awalnya video diedarkan lewat aplikasi pesan WhatsApp. Video tersebut berdurasi kurang lebih satu menit, dan bagian akhirnya ada kalimat penawaran untuk menyaksikan versi lengkap video tersebut. Dalam video teaser terlihat jelas ada anak lelaki -usia sangat belia- melakukan adegan intim dengan seorang perempuan dewasa. Aliansi PKTA, di mana Wahana Visi Indonesia duduk sebagai presidium, mengajak masyarakat tidak sebarkan video porno anak.

Video versi pendek menjadi viral karena banyak yang meneruskan kembali video tersebut. Di sebuah situs internet forum, bahkan banyak akun meminta tautan untuk mendapatkan versi panjang. Kebanyakan dari mereka beralasan karena penasaran atas isi video. Link video dibagi melalui pesan pribadi.

Penyebaran video pornografi anak termasuk dalam perbuatan tindak pidana.

Pasal 4 ayat (1) UU 44/2008 tentang Pornografi mengatur larangan perbuatan memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit memuat: a. persenggamaan, termasuk persenggamaan yang menyimpang; b. kekerasan seksual; c. masturbasi atau onani; d. ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan; e. alat kelamin; atau f. pornografi anak.

Pasal 27 ayat (1) UU 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik mengatur: “Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.”

Pasal 76i UU 35/2014 tentang Perubahan atas UU 23/2002 tentang Perlindungan Anak mengatur: Setiap Orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan eksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual terhadap Anak. (Penyebaran video pornografi anak dianggap turut serta melakukan eksploitasi secara seksual terhadap anak).

Hukuman penjara maksimal terhadap penyebar video pornografi anak adalah 12 tahun penjara, sementara denda maksimal 6 milyar Rupiah.