Share is caring
  • 53
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    53
    Shares

Ketidaktahuan atas disleksia bisa mengakibatkan terjadinya kekerasan terhadap anak. Tanda disleksia bukan terbatas pada gangguan perkembangan membaca dan menulis pada anak usia 7 tahun. Ini dia tanda disleksia yang banyak orang tua luput perhatikan.

“Disleksia itu lebih dari sekadar gangguan membaca dan menulis,” ujar dr. Tian, Ketua Umum Asosiasi Disleksia Indonesia saat ditemui tim advokasi di Pusat Perkembangan Anak Indigrow, Bandung, Jawa Barat.

“Disleksia punya beragam tanda pada anak, misal dia sering terlihat termenung, atau kadang sulit membedakan antara kanan dan kiri, punya masalah saat belajar matematika, atau kadang muncul seperti ada hambatan untuk konsentrasi. Hal- hal ini yang kemudian banyak orang tua menyangka sang anak nakal atau malas belajar, padahal dia itu bisa jadi menderita disleksia.”

Dokter yang punya nama lengkap Kristiantini Dewi ini mengungkap orang dewasa yang tidak paham problem disleksia jadinya kerap tidak sabar dan kemudian marah, membentak, bahkan melakukan kekerasan terhadap anak. Namun kekerasan terhadap anak sama sekali tidak menyelesaikan masalah, apalagi menyembuhkan disleksia.

Belum pernah ada penelitian tentang berapa sebenarnya jumlah penderita disleksia di Indonesia. Dalam beberapa kajian internasional disebutkan bahwa jumlah orang dengan disleksia berada di kisaran 10 – 20 persen per populasi. Itu artinya mungkin penduduk dengan disleksia berjumlah sedikitnya 15 juta orang. Dengan angka setinggi itu, bisa terbayang jumlah kekerasan terhadap anak akibat ketidakmengertian orang tua akan tinggi juga.

“Ada anak bahkan sampai merasa dirinya bodoh dan tidak mau belajar lagi, orang tuanya juga pasrah begitu saja, mereka tidak tahu bahwa itu disleksia, dan disleksia adalah sesuatu yang terus ada, dia tidak bisa disembuhkan,” ujar dr. Tian.

Dalam dunia kedokteran anak, disleksia ini dikenal ada dua macam, yaitu developmental dan acquired. Yang pertama sifatnya keturunan dan disandang seumur hidup. Sedang yang kedua itu karena akibat kecelakaan. Disleksia ini merupakan masalah pada otak kiri, tempat saraf terkait perkembangan membaca. Walau disleksia tidak bisa sembuh, tapi dampaknya bisa dikendalikan. Si anak dan pengasuh sama-sama belajar bagaimana mengatasi masalah akibat disleksia. Bahkan sejarah mencatat ilmuwan jenius Albert Einstein mengidap disleksia.

“Karena anak disleksia ini punya kelebihan tertentu seperti seni, geometri atau punya kesadaran sosial tinggi,” imbuh Dr. Purboyo Solek, Dewan Pembina Asosiasi Disleksia Indonesia. “Jadi jangan sebut mereka bodoh, kalau kita mengerti mereka, maka kita bisa membantu, mereka justru punya kelebihan. Jadi jangan dibentak-bentak apalagi dipukuli. Kenali mereka.”

Purboyo memberi petunjuk ciri disleksia: sulit mengucapkan kata-kata panjang; sulit mengenali irama; tak mudah untuk tahu alfabet, nama hari dalam seminggu, angka, warna, atau bentuk; saat baca atau mengeja, ada huruf yang terlupa;sulit menulis dengan tangan; punya kelemahan dalam hal kemampuan motorik; kadang gagal membedakan kanan kiri.

Dus punya tanda ini maka postif disleksia? “Oh belum tentu, untuk kepastian perlu tindak lanjut pemeriksaan dengan dokter spesialis anak,” ujar dr. Tian.

“Oya satu lagi perlu diingatkan, disleksia itu keturunan, jika ada anak mengidap disleksia, maka jelas orang tuanya juga mengidap disleksia, jadi sebelum kesal dan marah karena anak, ingat ini dulu. Anda pun bisa jadi mengidap disleksia,” pungkas Dr Purboyo Solek.

INGIN TAHU APAKAH ANDA ATAU ANAK MENGIDAP DISLEKSIA? BISA TES SECARA ONLINE DI SINI: http://uji-disleksia.com/